Judul: Nyai Mursiyem
Penulis: Ciayo Indah
Jumlah Halaman: 659 halaman

Blurb:

Novel ini mengangkat kisah perjalanan panjang, sekumpulan seniman Ronggeng yang ingin mencari kesetaraan hidup dengan mengadu nasib, sembari memperjuangkan seni ronggeng di pulau Emas (Sumatera) abad ke 17.

Dalam perjalanan panjangnya, rombongan ini mengalami banyak rintangan, dan ancaman hingga harus kehilangan istri, anak bahkan nyawa mereka sendiri.

Di dalam rombongan, ikut pula bersama mereka gadis kecil bernama Mursiyem. Anak dari sepasang seniman ronggeng ini kerap ditimpa nasib buruk seiring bertumbuhnya ia bak bunga harum yang indah. Kecantikannya ternyata kerap memancing syahwat para lelaki hidung belang untuk menyesap madunya.

Beragam upaya dilakukan kedua orang tuanya demi melindungi anak mereka dari kejahatan lelaki di setiap daerah persinggahan. Namun, kehancuran yang dialami Mursiyem tak disangka justeru berasal dari orang dalam, alias rombongan mereka sendiri. Rombongan yang seharusnya melindunginya dan keluarganya.

Pengkhianatan, fitnah, dan serangan kerap dialami Mursiyem dan orang tuanya dari rombongan yang selama ini sudah mereka anggap bagai saudara.

Hingga Mursiyem harus kehilangan kedua ibu bapaknya.

Hidup di hutan sebatang kara dengan perasaan takut dan putus asa tidaklah cukup. Teror yang ia terima belumlah usai. Untuk menutupi kejahatan demi kejahatan, Mursiyem yang malang terus diburu lalu kemudian dikubur hidup-hidup di dalam hutan.

Namun takdir bicara lain, ia ditolong oleh sembilan rijalul ghaib (kesatria Ghaib) dari abad keenam kerajaan SriWijaya, saat ia sudah pasrah dan hendak membawa mati saja seluruh rasa sakit dan dendamnya.

Bangkitnya Mursiyem setelah bermetamorfosis menjadi gadis jelita dengan kesaktian ilmu ghaibnya, berhasil mengancam semua orang yang pernah mencelakainya dan juga keluarganya. Dengan bantuan para kesatria ghaib, Mursiyem muncul dengan kekuatan besar untuk menuntut balas.

Akankah gadis polos itu akan terus berubah sadis dan jadi penebar teror yang tak punya belas kasih bagi semua musuhnya?

Apa jadinya ketika takdir membuatnya bertemu dengan Salamun, pemuda solih dengan sorban di kepalanya yang berhasil menggetarkan sukmanya lewat kalimah-kalimah Tuhan yang Maha Esa?

Apakah dia akan komitmen pada konsekuensi yang harus ia terima, sebagai tukar guling untuk semua kekuatan yang ia dapat dari dunia ghaib?

Manakah yang lebih dipilihnya, antara cinta dan iman ataukah persahabatan dan dendam?

Lalu apa jadinya, saat takdir harus mempertemukan Nyai Mursiyem dengan detektif muda Solahuddin Jalu Alfatah dan kawan-kawannya, 300 tahun kemudian. Ketika mereka dihadapkan pada masalah besar.

Yaitu terseret, dan hilangnya pulau Karang bersama isinya ke negeri bunian.

Untuk pemesanan, bisa tinggalkan jejak di kolom komentar!

 


Add comment


Security code
Refresh