Bagaimana lanjutan Azzahra dengan Elbara? Apakah mereka jadi menikah? Apakah hukum cambuk berlaku?

Bagaimana juga kisah Ashita? Apakah berakhir bahagia seperti mimpinya? Menulis Ashita dan Azzahra sangat menguras energi dan emosi, sesaat saya seperti merasa menjadi Ashita.

Terbuang dan terhina.

Abang Rizal mengatakan, "raganya memang hina tapi jiwanya mulia, dialah Ashita Raya."

Lalu kenapa saya berani mengambil kasus ini untuk diangkat menjadi sebuah kisah.

Mengapa harus ada Ashita juga ada Azzahra dan mengapa saya mengambil judul Mengejar Rajam?

Mengejar Rajam saya ambil, karena dalam proses hukum Had yang paling dikenal adalah Rajam.

Meski di Negeri kita yang memiliki jutaan umat muslim ini belum menerapkan, tapi hukum ini jelas ada.

Kenapa Rajam mba? Bukan cambuk? Pemilihan sebuah judul itu membutuhkan proses pemikiran yang matang.

Mengapa Rajam? Karena bagi saya judul ini menarik dan toh di dalam cerita ini akan mencangkup semua isi tentang kasus perzinahan.

Dalam cerita ini akan disampaikan melalui sebuah kisah, mengapa seseorang harus melalui proses cambuk, juga hukum had.

Dan mengapa perzinahan itu dianggap dosa paling besar dalam agama Islam. Azzahra seorang gadis yang berasal dari keluarga alim dan faqih ternyata bisa juga terjebak dalam dosa Zina.

Ashita seorang wanita yang terlahir di sebuah club malam, dan besar menjadi seorang pendayang pun ternyata tak mampu terlepas dari perbuatan zina. Iblis dan turunannya memang takkan pernah berhenti membuat manusia tumbang, segala cara mereka lakukan agar manusia lupa dan akhirnya harus bermaksiat.

Di saat cinta semestinya adalah alat untuk mencapai kebahagiaan, Iblis justru menjadikan cinta sebagai alat untuk persembahan. Cerita ini saya tujukan untuk adik-adik saya, keponakan saya, anak murid dan semua yang masih berusia belia. Percayalah sendiri sebelum menikah itu lebih mulia dari apapun, bahwa cinta Allah itu lebih nikmat dibandingkan cinta semu hamba sahaya.


Add comment


Security code
Refresh